Kanker kolorektal merupakan keganasan ketiga terbanyak setelah kanker paru dan kanker payudara, serta menjadi penyebab kematian keempat terbanyak di dunia.1 Diperkirakan terdapat 1.233.000 kasus KKR baru/tahun dengan angka mortalitas mencapai 608.000 kasus. Di Indonesia tidak terdapat angka insidens dan mortalitas KKR, sebagian besar penderita datang dalam stadium lanjut, sehingga angka harapan hidupnya rendah.2
Tumor dan atau kanker yang terjadi pada daerah caecum adalah termasuk tumor atau kanker yang terjadi pada bagian kolorektal. Seringkali pasien datang dengan keluhan obstruksi ileus yang sebenarnya berasal dari sumbatan pada daerah kolorektal, termasuk caecum. Pasien sering datang dalam kondisi yang telah lanjut sehingga tindakan bedah diperlukan. Paska operasi, dukungan nutrisi diperlukan, tetapi sampai saat ini belum ada pedoman pemberian nutrisi dini pada pasien paska operasi tumor atau kanker kolorektal yang dapat menjadi acuan.3
Penelitian Chen dkk, membuktikan pasien yang mendapat nutrisi dini secara signifikan mempunyai gejala mual, muntah, lemas yang lebih sedikit dibanding dengan yang mendapat nutrisi pada hari ketiga setelah operasi. Penelitian tersebut menemukan bahwa pemberian nutrisi dini secara oral dan enteral dapat meningkatkan status nutrisi dan sistem imun pada pasien kanker kolorektal. Profesor Henrik Kehlet pada tahun 1990 telah mengemukakan tentang konsep Enhanced Recovery After Surgery (ERAS) yang menjadi protokol penting pada bedah kolorektal, toraks, vaskular, dan radikal sistektomi. Konsep nutrisi dini adalah aspek penting pada ERAS. Namun pada beberapa keadaan tertentu ada juga yang berpendapat untuk tetap menganut teori lama, yaitu penundaan pemberian nutrisi paska bedah karena dikatakan bahwa pemberian nutrisi dini dapat menyebabkan penyembuhan anastomosis menjadi lama.4,5
Pemberian nutrisi pada pasien tumor dan atau kanker kolorektal yang telah mengalami pembedahan, terjadi reseksi seperti hemikolektomi, dan dibuatkan ileokolostomi, penting untuk dipelajari. Daerah reseksi tersebut merupakan tempat penyerapan kembali garam-garam empedu, eletrolit, dan air. Sehingga cairan dan nutrisi yang tidak adekuat dapat menyebabkan terjadinya diare, malabsorpsi, deplesi natrium, air, kalium dan magnesium. Pada umumnya pasien-pasien paska bedah yang tidak mendapat nutrisi adekuat dapat mengalami penurunan berat badan hingga 15% dari berat badan inisial dalam 2 minggu paska pembedahan.6 Oleh karena itu, malnutrisi dapat terjadi pada kasus-kasus paska pembedahan tumor kolorektal dengan reseksi, apalagi jika status nutrisi inisial sudah ada pada keadaan malnutrisi. Oleh karena itulah, maka makalah ini disusun sebagai bagian dari proses pembelajaran mengenai tatalaksana nutrisi pada pasien dengan tumor/kanker kolorektal yang menjalani pembedahan dan dilakukan hemikolektomi dan ileokolostomi. Sehingga diharapkan dengan mengetahui dan mengimplementasikannya dapat mencegah terjadinya malnutrisi berkepanjangan ataupun defisiensi nutrisional yang dapat terjadi pada kasus-kasus tersebut.
Referensi:
- Josep S, James L, Goh KL, Leung WK. Increasing incidence of colorectal cancer in Asia: implications for screening. The Lancet Oncology. 2005; 6(11): 871-6.
- Jacques F, Hai-Rim Shin, F. Bray, David F, Colin M, D.M Parkin. Estimates of worldwide burden of cancer in 2008: GLOBOCAN 2008. Internat J Cancer 2010; 127(12): 2893-917.
- Price, Sylvia A, and Lorraine M. C. Wilson. Pathophysiology: Clinical Concepts of Disease Processes. St. Louis, Mo: Mosby, 2003.
- Chen Y et al. Nutrition support in surgical patients with colorectal cancer. World J Gastroenterol 2011:7; 17(13): 1779-1786
- Melnyk M et al. Enhanced recovery after surgery (ERAS) protocols: Time to change practice ? Can Urol Assoc J 2011;5(5): 342-8
- Hill, Graham L. Disorders of Nutrition and Metabolism in Clinical Surgery: Understanding and Management. Edinburgh [Scotland]: Churchill Livingstone, 1992.