Terapi Nutrisi Bedah Digestif – Saluran Cerna, Absorpsi, & Sekresi – Catatan Stase Bedah Digestif dr. Putri Adimukti, Sp.GK

Panjang usus halus lebih kurang 6-7 meter dengan panjang usus berkisar kira-kira 1,5 meter (diameter lebih besar)

Duodenum = 25 cm, pH disini alkali

Jejunum = 1-2 meter

Ileum 2-4 meter, disini banyak terdapat villi-villi usus

Saluran cerna memproses 8-9 liter air perhari, dimana kebanyakan dari air ini berasal dari sekresi endogen dan proses penyerapan air berlangsung hampir sempurna sehingga menyisakan 100-200 ml air pada feses setiap harinya. 80% penyerapan air terjadi di usus halus.

Makro dan mikronutrient diserap sepanjang usus halus. Jejunum memiliki villi-villi terpanjang dan kripta-kripta yang pending dan aktivitas enzimatik yang lebih tinggi dari ileum. 90% absorpsi dan digesti dari makro dan mikronutrient penting terjadi pada proksimal 100-150 jejunum (karbo, fat, vitamin B, C, folic acid, serta vitamin A,D,E,K). Walau demikian, Bila terjadi reseksi pada portio penting jejunum, proses penyerapan tidak terganggu karena adanya adaptasi ileum. Sayangnya, proses digesti enzimatik tetap terganggu karena hilangnya hormon enterik yang diproduksi oleh jejunum. Terjadi pula penurunan sekresi bilier dan pankreatik. Terjadi Hipersekresi gastrik sehingga bisa menyebabkan perlukaan pada mukosa usus halus. Kondisi ini juga menyebabkan enzim-enzim pankreas yang tersisa tidak bekerja karena rendahnya pH. Diare juga dapat terjadi bilamana terjadi loading cairan dengan osmotik tinggi (yang biasanya berasal dari nutrisi yang tidak tercerna) sampai di ileum dan kolon.

Pada reseksi ileum, terjadi penurunan penyerapan air dan elektrolit. Pada kondisi ini juga terjadi gangguan pada penyerapan garam empedu dan vitamin B12 (ileum terminal). Semakin panjang ileum yang direseksi kemungkinan terjadinya diare akan semakin besar. Kehilangan garam empedu terus menerus akan mengakibatkan terjadi malabsorpsi lemak, steatorea, dan vitamin-vitamin larut lemak. Dipertahankannya katup ileocecal memerankan peran penting pada reseksi usus halus. Bila katup ini masih ada, transit intestinal akan lambat (sehingga penyerapan akan lebih maksimal). Namun bila katup ileocecal hilang, terjadi penurunan lama waktu transit makanan sehingga kehilangan nutrisi akan lebih besar. Selain itu, dapat terjadi translokasi bakteri dari usus besar ke usus halus yang akan memperberat kondisi diare dan kehilangan nutrisi.

Dipertahankannya kolon dapat berdampak positif maupun negatif. Absorpsi air dari kolon dapat meningkat hingga 5 kali lipat dari kapasitas normalnya mengikuti suatu reseksi usus halus. Kolon juga dapat mencerna karbohidrat yang tak dapat dicerna oleh usus halus menjadi SCFA (butirat, propionat, dan asetat) yang merupakan bahan bakar utama untuk kolon. Kolon ternyata juga dapat menyerap dan menghasilkan energi sebesar 500 kkal dari proses ini yang dapat ditransport ke vena portal dan digunakan sebagai sumber energi tubuh. Namun demikian, dipertahankannya kolon dapat meningkatkan insidensi terjadi pembentukan batu kalsium oksalat. Oksalat secara normal terikat pada kalsium di usus halus dan tidak larut air ketika sampai di usus. Setelah enteroktomi masif, banyak kalsium yang terikat dengan lemak intraluminal. Oksalat bebas akhirnya sampai di kolon dimana zat ini diabsorpsi dan proses ini menyebabkan saturasi urin dengan kristal kalsium oksalat dan menyebabkan pembentukan batu.   

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *