
Roux-En-Y Gastric By Pass= Pada kondisi setelah pembedahan tidak ada makanan yang akan melewati lambung tetapi lambung akan tetap memproduksi gastric juices dan enzim-enzim esensial untuk proses digesti dan absorpsi nutrien.
Prosedur operasi adalah dengan membentuk kantung lambung pada bagian proksimal (15 ml jika BMI>50 dan 30 ml jika BMI antara 40-50). Jejunum dilakukan transeksi pada 45 cm dari ligamentum treitz (DJ junction) kemudian dilakukan gastrojejunal anastomosis dan side-to-side jejuno-jejunal junction (ada juga versi end tos ide anastomosis). Diet per oral dapat dimulai 24 jam pasca operasi.
Pasca operasi pasien akan mengalami penurunan asupan makanan sekaligus tidak akan merasa lapar. Juga dapat terjadi dumping syndrome terutama ketika makan makanan manis ataupun berlemak. Kondisi ini dapat menyebabkan diare, keram perut, “keliyengan”. Lama operasi kurang lebih 50 menit dengan durasi rawat pasca op lebih kurang 2-4 hari. Enam bulan pasca bedah diperlukan pemeriksaan darah untuk melihat ada/tidaknya defisiensi mineral/vitamin tertentu. Komplikasi pasca operasi yang dapat terjadi antara lain gastric dilatasi (bilamana terjadi obstruksi jejunojejunal junction, stomal stenosis, marginal ulcer dumping syndrome, internal hernias, defisiensi vitamin B12, dan anemia defisiensi iron.
Pasca Gastric By-Pass dapat terjadi batu empedu karena adanya penurunan berat badan yang cepat. Kondisi rapid weight loss menyebabkan liver mengalirkan kolesterol ke dalam kandung empedu sehingga dapat menyebabkan batu kolesterol. Biasanya dapat diberikan urdafalk 2×300 mg (6-12 bulan) untuk mencegah pembentukan batu empedu, atau sebagai pencegahan dapat juga langsung dilakukan kolesistektomi, terutama pada pasien-pasien yang sudah menderita batu empedu.
Gastrektomi

Billroth I=Adalah teknik operasi dimana antral lambung dan pilorus dihilangkan dan bagian proksimal lambung kemudian dianastomosis langsung ke duodenum (end to end). Keuntungan dari teknik operasi ini adalah tidak adanya perubahan anatomis dari saluran cerna, dan dikatakan memiliki komplikasi yang lebih sedikit daripada Billroth II. Walaupun demikian, dengan ketiadaan pilorus maka passase makanan berlangsung cepat dari lambung hingga jejunum, sehingga mixing makanan lebih banyak terjadi di jejunum. Komplikasi yang dapat ditimbulkan antara lain terbentuknya ulkus pada anastomosis dan ulkus duodenum. Billroth I umumnya dilakukan untuk kondisi benign, bersamaan dengan parsial gastrektomi, dan gastroduodenostomi.
Billroth II=pada teknik ini (lihat gambar) tampak banyak modifikasi). Keuntungan Billroth II adalah jarang terjadi ulkus duodenal. Tetapi pada Billroth II risiko dumping syndrome lebih tinggi. Operasi ini membutuhkan waktu sebanyak 120-240 menit dengan lama rawat sekitar 10-14 hari. Teknik ini biasanya dilakukan untuk karsinoma gaster, dilakukan gastrojejunostomi, dan duodenal stump ditutup. Lower radical gastrectomy dilakukan pada karsinoma pilorus derajat awal. Bersamaan dengan bagian kanker, 5 cm bagian lambung ke arah proksimal, omentum, nodus limfatik, spleen with tail of pancreas, dan dilakukan Billroth II anastomosis. Bila kanker ada di bagian atas atau pada OG junction maka yang dilakukan adalah upper radical gastrektomi bersamaan dengan OG anastomosis.
Anterior/Posterior Gastrojejunostomi=Adalah operasi yang dilakukan pada kasus-kasus karsinoma pilorus yang sudah paliatif (inoperabble) untuk mencegah terjadinya muntah. Pada teknik ini dilakukan anastomosis antara jejunum dan permukaan anterior lambung, di depan kolon transversum. Posterior GJ dilakukan dengan truncal vagotomy (nervus vagus dibuang).
Pankreatikoduodenektomi {WhippleProcedure (A) & Pylorus-Preserving Pancreaticoduodenectomy (B)}

Indikasinya adalah untuk tumor jinak pada periampula pankreas yang tidak dapat dimanajemen dengan reseksi lokal pada ampulektomi, neoplasma duodenum, trauma (jarang). Juga pada kondisi ganas seperti Adenokarsinoma duktus pakreatik, Karsinoma islet sel pankreas, karsinoma mucinous pankreas, intraduktal papilari mucinous pankreas, karsinoma ampula, karsinoma distal CBD (kolangiokarsinoma), karsinoma duodenal. Komplikasi yang berhubungan dengan nutrisi antara lain pasca operatif dapat terjadi delayed gastric emptying (lebih umum terjadi pada P3D daripada pada pankreatikoduodenektomi biasa).

Prosedur ini melakukan reseksi pada kepala pankreas (karena dikatakan bagian kepala pankreas merupakan pacemaker pada pankreatitis). Terapi yang disarankan dapat berupa pemasangan jejunal feeding. Untuk mencegah komplikasi P3D dapat dilakukan pemasangan NGT (dekompresi), IV antibiotik untuk mencegah sepsis bilier, agen prokinetic seperti domperidone, cisapride, metoklopramid, eritromisin). Duktus pankreatik yang berdilatasi lebih dari 7 mm merupakan Indikasi untuk pankreatikojejunostomi.

Puestow operation (longitudinal pankreatikojejunostomi) dilakukan bila duktus pankreas berdilatasi lebih dari 8 mm kemudian dilakukan Roux-En-Y anastomosis (pankreatikojejunostomi-Roux-En-Y), penarikan distal pankreas ke superior mesenterik arteri, dan spleen dihilangkan. Apabila spleen dipertahankan maka disebut sebagai partington-Rochelle operation (longitudinal pankreatikojejunostomi) / longitudinal dokotomi).

Frey’sProsedure melakukan pembukaan seluruh duktus pankreas yang dianastomosis dengan jejunum masih dengan metode Roux-EN-Y. Beger’s procedure hampir mirip dengan Frey’s procedure, hanya saja pada bagian ini dilakukan reseksi leher pankreas. Pada Duval procedure (retrograde pancreaticojejunostomy) hampir sama dengan Puestow procedure hanya saja bagian ekor direseksi dan dilakukan end to end pankreatikojejunostomi dan terdapat aliran balik (retrograde) dari duktus pankreas menuju jejunum.
Koledokojejunostomi yang juga melakukan Roux-EN-y anastomosis dilakukan apabila terdapat komplikasi striktur bilier pada pankreatitis. Apabila terdapat obstruksi duodenal ditambahkan lagi dengan gastrojejunostomi.

Harttmann Procedure=adalah teknik operasi reseksi dari kolon rektosigmoid dengan penutupan anorektal stump dan pembuatan kolostomi. Indikasinya adalah pada kanker kolon atau inflamasi pada kolon. Stoma yang dibuat dapat merupakan proksimal end kolostomi atau ileostomi. Reverseal Hartmann Procedure dilakukan untuk menutup kolostomi pada Hartmann Procedure dan membentuk kolorektal anastomosis kembali. Kontraindikasi dari dilakukannya RHP adalah pasien berada pada ASA III atau lebih, sepsis, kondisi klinis buruk, Albumin level <3,5 U/L, High BMI, Keganasan yang sudah menyebar, Dispnea, Ketebalan subkutan fat ≥0,42 (karena subkutan juga dilakukan suturing), dan pasien merokok. Bila dilakukan lebih cepat dari 6 bulan biasanya mortalitas dan morbiditasnya lebih tinggi, oleh karena itu minimal dilakukan 6 bulan pasca prosedur pertama. Pasien juga diedukasi untuk melakukan anal sphincter exercise untuk mencegah terjadinya atrofi.